Emil Salim dan Azmi Syahputra Pantulkan Puisi Pelemahan KPK

Kabar7News, Jakarta – Puisi Menteri lingkungan hidup era Presiden Soeharto, melalui akun Twitter Emil Salim yang menulis puisi singkat tentang pelemahan lembaga Antirasuah atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Terang bulan, teranglah dikali. Buaya timbul disangka mati, Jangan percaya mulut resmi KPK, Berani pecat anak, karena takut mati,” demikian bunyinya.

Puisi ini disebut kembali dan dilanjutkan Azmi Ayahputra akademisi hukum pidana, puisi itu berjudul “KPK dibunuh mati di rumahnya sendiri”.

Puisi sastra hukum ini katanya merupakan keresahan akademik melihat fenomena arah peta perjalanan KPK pasca revisi UU KPK yang organnya semakin dilemahkan fungsinya, ada pihak pihak yang diduga
umbar demi kekuasaan dan terlihat ada kepentingan yang ingin dilindungi, dan kini ada narasi menggugah diserukan sehingga menjadikan gambaran opini publik yang kontroversi lari dari tujuan undang-undang KPK.

“Puisi sastra hukum ini adalah jiwa yang terbang dengan mata penanya yang ditujukan bagi manusia yang berani mengatakan kebenaran, manusia yang berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan akademik kritis objektif tajam dan bagi manusia yang berani membebaskan diri dari bayang tirani,” kata Azmi kepada Kabar7News berdasarkan keterangan tertulis, Jumat (14/5/2021).

Adapun isi puisi tersebut: Aku hujamkan fatwa pendiri bangsa yang terpatri “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” …
Dan hari ini aku berdialog dengan Tuan
Emil Salim yang mengisahkan,
“Terang bulan, teranglah di kali. Buaya timbul disangka mati, Jangan percaya mulut resmi KPK, berani pecat anak, karena takut mati”.

Anak yang dibunuh di rumahnya sendiri,
Anak yang dilayang pukulan mematikan berkali kali…
Ayah dan anak pun kini dalam satu atap dengan segala kontroversi,,
saling mewanti,balas dendam untuk menghabisi…
Tak lagi satu arah dalam menenangkan jalan amanat konstitusi…

Tak terbayang di rumah itu jika kesabaran tak menyertai derita kalian,
Tak terbayang jika semangat itu tak membakar bara kalian,
Ini harus dilawan, diakhiri, karena dalam rumah yang tak bisa lagi terasa aman.

Kawan..usaha juang ini tanpa menyerah, tak kenal lelah, rasa gentar dan takut terlenyap sudah, pekik usaha sana-sini tumpah, yang baru akan selesai bila satu kata tercapai

KPK berdiri..KPK Mandiri tanpa intervensi , Insan lembaga yang mengutamakan pemberantasan korupsi ,di atas segala-galanya dari kepentingan yang bersembunyi.

Hai kawan..Kalian tidak sendiri.. karena aku, kami berdiri disini mengalir jadi perisai sejati.
Untuk menumpas, mengusir kejahatan yang lupa diri,
mari melawan bayang kengerian, habis habisan dengan musuh tirani..

Ayoo semangat.. bersorak gembira, nyanyikan lagu maju tak gentar,..
KPK harus tetap bernyawa,
Bergerak dan berkibar dengan degup jantung demi keadilan.

Kalian tahu KPK itu untuk siapa?
Buka hati dan buka diri, temukan makna
Semuanya untuk Indonesia
Semuanya untuk senyum anak Indonesia
Semuanya untuk masa depan Indonesia
Semua untuk menjaga isi rumah Nusantara

KPK dibunuh di rumahnya sendiri,
KPK dilayang pukulan mematikan berkali- kali..
KPK disenjatai dan diarahkan ke dada sendiri.
KPK dibunuh, Mati di Rumahnya Sendiri.

(wem)

Kabar7News